Kabar

K.H Ahmad Fadlil, Terjemahan Qosidah Alburdah dan Cikal Bakal Ponpes Darussalam Ciamis

×

K.H Ahmad Fadlil, Terjemahan Qosidah Alburdah dan Cikal Bakal Ponpes Darussalam Ciamis

Sebarkan artikel ini

Pondok Pesantren Darussalam Ciamis tidak dapat dipisahkan dari jejak langkah dan keteguhan visi pendirinya, K.H. Ahmad Fadlil. Lahir dari rahim keprihatinan sosial dan religius pada masa kolonial Belanda, beliau mendirikan institusi ini pada tahun 1929 di Dusun Cidewa dengan modal kesahajaan yang mendalam—sebuah masjid kecil dan sebuah bilik bambu sederhana.


K.H. Ahmad Fadlil memandang pesantren bukan sekadar tempat mengaji dan menghafal teks-teks klasik, melainkan sebagai kawah candradimuka untuk membentuk manusia yang mandiri, adaptif, dan berdaulat secara ekonomi. Oleh karena itu, di samping menanamkan kedalaman ilmu alat dan kitab kuning, beliau memelopori kurikulum kemandirian dengan mengajarkan para santri bercocok tanam dan bertani. Fondasi nilai moderatisme, disiplin, dan integrasi ilmu yang diletakkan oleh K.H. Ahmad Fadlil inilah yang kelak dirawat dan dikembangkan oleh para penerusnya, hingga mampu mentransformasikan sebuah surau desa menjadi salah satu episentrum pendidikan Islam modern yang disegani di Jawa Barat.

Ilustradi suasana pesantren saat Kunjungan Presiden Soeharto ke Pesantren Cidewa sebagai cikal bakal Pondok Pesantren Darussalam Ciamis.


Karya sastra keagamaan paling monumental dari K.H. Ahmad Fadlil adalah gubahan puitis terjemahan Qasidah Burdah ke dalam bahasa Sunda. Masterpiece yang diselesaikan bersamaan dengan berdirinya pesantren pada tahun 1929 ini lahir dari kecintaan mendalam beliau terhadap sastra Arab. Melalui karya ini, K.H. Ahmad Fadlil berhasil menjembatani keindahan syair pujian karya Imam al-Busyiri dengan kekayaan rasa tatar Sunda, menjadikannya warisan budaya yang tak lekang oleh waktu di masjid-masjid dan majelis taklim Jawa Barat.


Terjemahan Qasidah Burdah dalam bahasa Sunda merupakan karya monumental KH Ahmad Fadlil yang diselesaikan pada tahun 1929 sebagai upaya membumikan solawat. Karya sastra ini menggabungkan keindahan teks spiritual Arab dengan kekayaan bahasa Sunda, menjadikannya warisan budaya yang mengakar kuat di Jawa Barat.

Ilustrasi Gedung Nadwatul Ummah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis


Keahlian KH Ahmad Fadlil terlihat dari kemampuannya mempertahankan rima akhir (mimiyat) yang konsisten, mirip dengan teks aslinya. Beliau memilih diksi yang natural, seringkali menggabungkan istilah Jawa agar selaras dengan irama, menghasilkan terjemahan yang komunikatif.


Karya ini kini menjadi bagian dari identitas spiritual masyarakat Sunda dan rutin dilantunkan sebagai nadzoman di masjid. Di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, karya ini terus dilestarikan dan diadaptasi ke dalam musikalisasi modern agar tetap relevan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *